Pengembangan Terapi Jari Pasca Stroke
Bagaimana Terapi Jari itu?
Terapi Jari ini diharapkan dapat membantu memperbaiki fungsi motorik dan kondisi fisik anggota tubuh bagian atas. Adapun beberapa pilihan terapi jari tangan pascastroke yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mental Imagery Mental imagery adalah suatu bentuk terapi yang dilakukan dengan memberikan gambaran di alam bawah sadar, hal ini bertujuan untuk merangsang neuron motorik (sel saraf yang berperan mengirimkan sinyal dari sistem saraf pusat menuju otot). Melalui teknik ini, dokter akan memberikan visualisasi gerakan tangan dan rangsangan somatosensorik (sistem indra yang mendeteksi pengalaman berupa sentuhan atau tekanan, suhu, dan rasa nyeri) pada jari-jari tangan, tanpa mengharuskan pasien untuk melakukan gerakan secara nyata.
2. Tactile Stimulation, Soft Tissue Mobilisation, and Passive Movements Tactile stimulation dan soft tissue mobilisation adalah salah satu terapi jari tangan pascastroke yang dilakukan dengan memberikan rangsangan pada saraf untuk menarik perhatian pasien serta mengarahkannya ke bagian tubuh yang terdampak. Di sisi lain, passive movements adalah terapi yang dapat memberikan efek serupa dengan tactile stimulation dan soft tissue mobilisation. Namun, di samping itu, terapi ini juga bisa mendorong pasien untuk menciptakan pola gerakan sensorik sendiri. 3. Action Observation Therapy (AOT) Terapi tangan pascastroke selanjutnya adalah action observation therapy (AOT). Melalui terapi ini, pasien diarahkan untuk mengamati, meniru, dan melaksanakan gerakan atau tindakan tertentu yang dilakukan oleh orang lain, seperti mengambil segelas air, menyisir rambut, atau menulis. Biasanya, tindakan dari orang lain ini akan direkam dalam sudut pandang orang pertama atau orang ketiga. Kemudian, pasien dapat mengamati video tersebut dan melakukan gerakannya secara perlahan. 4. Mirror Therapy Melalui mirror therapy, dokter akan mengarahkan pasien untuk mengamati gerakan dari anggota tubuh yang tidak terdampak stroke melalui cermin yang diposisikan sejajar dengan garis tengah tubuh. Dengan begitu, pasien dapat menerima visualisasi gerakan tersebut untuk mengaktifkan sirkuit saraf tertentu dan merangsang plastisitas otak dalam mempelajari gerakan motorik kembali. Sebagai informasi, plastisitas otak merupakan kapasitas atau kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap kebutuhan fungsional, termasuk mengubah neurochemical, neuroreceptive, hingga struktur neuron saraf dan organisasi otak. 5. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation Repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS) merupakan tindakan neuromodulasi noninvasif yang dapat mengubah rangsangan motor cortex, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk menjalankan gerakan tubuh. Neuromodulasi sendiri merupakan terapi yang melibatkan modifikasi atau pengaturan saraf pada otak untuk mengembalikan fungsi normal sirkuit saraf serta meringankan gejala yang berkaitan dengan kondisi neurologis. Metode ini bisa menggunakan teknologi magnetik berfrekuensi rendah (1 Hz) yang ditempelkan pada kepala untuk menghambat rangsangan atau berfrekuensi tinggi (10–50 Hz) yang dapat meningkatkan rangsangan pada korteks otak. 6. Transcranial Direct Current Stimulation Transcranial direct current stimulation (TDC) adalah salah satu metode penyembuhan pascastroke bersifat noninvasif. TDC umumnya dilakukan dengan menggunakan dua elektroda berintensitas rendah (1–2 mA) yang ditempatkan pada kulit kepala. Tujuannya adalah untuk merangsang neuroplastisitas agar bisa beradaptasi dengan kebutuhan fungsional, termasuk kemampuan motorik tangan. Neuroplastisitas atau plastisitas saraf adalah proses yang melibatkan perubahan struktural dan fungsional adaptif pada otak. 7. Inhibition Technique Inhibition technique adalah salah satu metode pemulihan pascastroke dengan cara meninggikan posisi lengan yang terdampak di atas 90 derajat saat pasien sedang menjalani latihan keseimbangan di atas permukaan busa. Hal tersebut diketahui dapat meredakan tonus atau ketegangan otot fleksor siku yang kerap dialami oleh penderita stroke. Selain itu, prosedur rehabilitasi stroke ini juga dapat membantu mengoptimalkan pemulihan fungsi anggota tubuh bagian atas serta kecepatan berjalan pasien. 8. Penggunaan Obat-obatan Dokter juga dapat menggunakan obat-obatan tertentu untuk mengubah transmisi saraf dan rangsangan motor cortex pada bagian otak, sehingga bisa membantu mengembalikan fungsi motorik tangan. Namun, perlu diingat bahwa obat-obatan ini tidak bekerja secara spesifik untuk menangani gangguan motorik tangan seperti terapi jari tangan pascastroke lainnya. 9. Constraint-Induced Movement Therapy Constraint-induced movement therapy (CIMT) adalah terapi yang bertujuan untuk kembali menyeimbangkan motor cortex dengan membatasi aktivitas dan gerakan pada sisi tubuh yang tidak terdampak. Sementara itu, sisi tubuh yang terdampak pascastroke perlu dilatih dan digerakkan secara intensif. 10. Terapi Jari Tangan Pascastroke Lainnya Selain metode yang telah dijelaskan di atas, terapi jari tangan pascastroke juga dapat dilakukan dengan beberapa tindakan medis lainnya, seperti bilateral training, electromyographic (EMG) biofeedback, electromechanical, hingga robot techniques. Berikut penjelasan selengkapnya.
*Bilateral training: Terapi yang menggunakan gerakan kedua lengan secara simetris (bersamaan) atau bergantian.
*Functional electrical stimulation (FES) dan transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS): Terapi yang menggunakan dua elektroda untuk menghantarkan sinyal listrik pada bagian tubuh yang bermasalah. Tujuannya adalah untuk merangsang fungsi saraf sensorik tubuh.
*Electromyographic (EMG) biofeedback: Prosedur noninvasif yang menggunakan elektroda untuk memantau waktu dan kekuatan aktivasi otot, dengan begitu pasien bisa mendapatkan umpan balik mengenai auditori dan visualisasi gerakan otot-ototnya.
*Electromechanical atau robotic-assisted therapy: Melalui metode ini, pasien bisa mendapatkan umpan balik mengenai sistem sensorik dan motorik yang akan diterimanya saat bergerak secara normal. Dengan begitu, pasien dapat membuat pola gerakan yang diinginkan, di mana hal tersebut juga bisa merangsang fungsi motorik tubuh.
*Virtual reality: Terapi ini dapat memberikan pengalaman pasien untuk melihat anggota tubuhnya bergerak tanpa kesulitan secara virtual. Metode ini juga memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan lingkungan yang distimulasi dengan melibatkan beberapa sistem sensori serta menerima umpan balik waktu nyata mengenai kinerja antara teknologi komputer canggih dan pengguna dengan lingkungan yang dihasilkan komputer dengan cara yang naturalistik.
*Task-specific practice: Terapi yang dilakukan dengan mengarahkan pasien untuk melakukan tugas-tugas tertentu secara spesifik guna memulihkan fungsi motorik secara optimal. *Robot-techniques: Rehabilitasi stroke dengan bantuan teknologi robot yang dapat memberikan intensitas latihan dan terapi fisik dengan intensitas tinggi. Terdapat dua jenis teknologi robot yang bisa digunakan untuk memulihkan fungsi motorik tangan pascastroke, yaitu: *End-effector devices: Perangkat ini dapat dihubungkan dengan bagian ujung lengan robot. Jadi, pasien bisa memegang perangkat tersebut untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. *Exoskeleters: Perangkat yang dipasang di beberapa titik pada anggota tubuh bagian atas, sehingga membentuk semacam otot buatan.
Terapi Jari Mandiri(genggam bola karet)
Salah satu terapi non farmakologi yang bisa diberikan pada penderita stroke adalah latihan fisik berupa genggam bola (Ball Grasping Therapy). Latihan genggam bola karet bertujuan untuk menstimulasi motorik pada tangan dengan cara menggenggam bola. Latihan menggenggam bola dengan tekstur yang lentur dan halus dapat merangsang serat-serat otot untuk berkontraksi. Adanya kontraksi otot tangan akan membuat otot tangan menjadi lebih kuat karena terjadi kontraksi yang dihasilkan oleh peningkatan motorik unit yang diproduksi asetilcholin (zat kimia yang dilepaskan oleh neuron motorik sistem saraf untuk mengaktifkan otot).
- Sebelum melakukan terapi baiknya dianjurkan penderita untuk pemanasan berupa menggerakan siku mendekati lengan atas (fleksi), meluruskan kembali lengan atas (ekstensi).
- Ball grip (wrist up): Pegang bola di telapak tangan. Buka tangan sehingga menghadap ke atas. Genggang kuat bola di telapak tangan tahan dan rileks. Ulangi kembali.
- Ball grip (wrist down): Pegang bola di telapak tangan. Balikkan tangan sehingga menghadap ke bawah. Remas bola di telapak tangan. Tahan dan rileks. Ulangi kembali.
- Pinch: Tempatkan bola di antara ibu jari dan jari telunjuk. Remas bersama. Tahan dan rileks
- Thumb extend: Tempatkan bola di antara ibu jari yang tertekuk dan dua jari di tangan yang sama. Menggulirkan bola, rentangkan dan luruskan ibu jari.
- Opposition: Tempatkan bola di telapak tangan. Pertahankan antra ibu jari dan jari saat sedang berlatih. Rapatkan ibu jari dan jari. Pegang dan rilekskan tangan.
- Extend out: Tempatkan bola di atas meja. Letakkan ujung jari di atas bola. Gulung bola ke luar di atas meja.
- Side-Squeeze: Tempatkan bola di antara dua jari mana pun. Rapatkan kedua jari tersebut. Tahan dan rileks
- Finger bend: Letakkan bola di telapak tangan dengan jari ditekan ke dalam bola. Dorong jari ke dalam bola saat anda menukuk jari. Tahan lalu rileks
- Membantu penderita menjalani rutinitas sehari-hari secara mandiri
- Menjaga fungsi otak yang masih dapat dipertahankan
- Mengurangi kerusakan syaraf
- Menurunkan mortalitas dan kecacatan jangka panjang
- Mencegah komplikasi sekunder pada imobilitas dan disfungsi syaraf
- Mencegah stroke yang berulang
Komentar