Pengembangan Terapi Jari Pasca Stroke

 Pengembangan  Terapi Jari Untuk Membantu Proses Rehabilitasi  Pasca Stroke

Oleh:Muhammad Maulana Bassam

MAHASISWA DIPLOMA III JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA 2

Pendahuluan

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia yang disebabkan oleh sumbatan dan pecahan pembuluh darah. Untuk mengembalikan fungsinya kembali, diperlukan proses rehabilitasi, salah satunya menggunakan alat terapi jari.Stroke selama ini sudah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di Indonesia bahkan dunia, khususnya bagi golongan usia tua atau lansia. Dari dulu sudah banyak manusia meninggal akibat penyakit stroke dan menempati salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Jika seseorang sudah menderita penyakit stroke, kebanyakan dari mereka akan mengalami cacat ringan maupun berat pada bagian tertentu pada tubuh yang terkena stroke, mengakibatkan mereka akan kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sehingga pasien penderita stroke membutuhkan bantuan orang lain ataupun alat bantu.Penelitian tentang penyakit stroke telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu, salah satunya adalah dilakukan oleh Zakariyah dan terdapat juga penelitian mengenai teknologi alat kesehatan berbasis robotik.

Program rehabilitasi merupakan bentuk dari pelayanan kesehatan terpadu dengan melakukan pendekatan medik, psikososial, edukasi vokasional yang bertujuan untuk menghasilkan kemampuan fungsional semaksimal mungkin dan mencegah serangan berulang.Dalam melakukan proses rehabilitasi tentunya membutuhkan beberapa aktor yang akan terlibat mulai dari dokter spesialis syaraf, dokter rehabilitasi medik, perawat, fisioterapis, pasien, keluarga pasien, dan pihak-pihak lain yang secara tidak langsung ikut terlibat.Program rehabilitasi tidak hanya terbatas pada pemulihan kondisi saja, namun juga mencakup rehabilitasi yang bersifat penuh kasih sayang, psikososial, serta rasa empati yang luas, guna membangkitkan semangat pada pasien.Salah satu jenis gerakan latihan untuk pasien pasca stroke adalah Range of Motion (ROM). ROM adalah jumlah maksimal gerakan yang bisa dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh, yaitu frontal, sagital, dan transversal. Potongan frontal adalah garis yang melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian depan ke belakang. Yang disebut sebagai potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang, dan membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Sedangkan potongan transversal adalah garis horizontal yang membagi.

Stroke adalah kondisi medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak mengalami gangguan akibat adanya penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di dalam otak (stroke hemoragik).Stroke adalah suatu gangguan fungsi otak yang terjadi secara mendadak, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah diotak, dan dapat mengakibatkan kematian.Di Indonesia, stroke menjadi penyebab sekitar 15,4% kematian.Umumnya stroke ditandai dengan timbulnya gangguan saraf (defisit neurologis) fokal atau global, yang berlangsung lebih dari 24 jam.dari total kasus kematian akibat penyakit. Sebanyak 2,5% dari pasien stroke meninggal dunia, dan sisanya akan mengalami kecacatan yang beratnya bervariasi.

Kondisi ini kerap menimbulkan masalah kesehatan setelah pemulihan, salah satunya adalah gangguan motorik.Terapi Pasca Stroke dilakukan untuk memberikan kemudahkan kepada pasien penderita stroke dalam melakukan terapi mandiri, sehingga dapat mengurangi tingkat disabilitas pasca stroke. Dengan ketersediaan waktu yang tidak memadai untuk melakukan terapi di rumah sakit, pasien penderita stroke maupun keluarga pasien, kesulitan untuk menemukan jadwal terapi yang tersedia. Hal ini membuat keluarga sulit untuk menemukan jadwal untuk melakukan terapi dirumah sakit. Dengan alasan itulah dibuat sebuah Alat Bantu Terapi Pasca Stroke untuk Tangan yang dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam proses pemulihan pasca stroke yang dapat digunakan saat berada dirumah.

Bagaimana Terapi Jari itu?

Terapi Jari ini diharapkan dapat membantu memperbaiki fungsi motorik dan kondisi fisik anggota tubuh bagian atas. Adapun beberapa pilihan terapi jari tangan pascastroke yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

                        

1. Mental Imagery Mental imagery adalah suatu bentuk terapi yang dilakukan dengan memberikan gambaran di alam bawah sadar, hal ini bertujuan untuk merangsang neuron motorik (sel saraf yang berperan mengirimkan sinyal dari sistem saraf pusat menuju otot). Melalui teknik ini, dokter akan memberikan visualisasi gerakan tangan dan rangsangan somatosensorik (sistem indra yang mendeteksi pengalaman berupa sentuhan atau tekanan, suhu, dan rasa nyeri) pada jari-jari tangan, tanpa mengharuskan pasien untuk melakukan gerakan secara nyata.

2. Tactile Stimulation, Soft Tissue Mobilisation, and Passive Movements Tactile stimulation dan soft tissue mobilisation adalah salah satu terapi jari tangan pascastroke yang dilakukan dengan memberikan rangsangan pada saraf untuk menarik perhatian pasien serta mengarahkannya ke bagian tubuh yang terdampak. Di sisi lain, passive movements adalah terapi yang dapat memberikan efek serupa dengan tactile stimulation dan soft tissue mobilisation. Namun, di samping itu, terapi ini juga bisa mendorong pasien untuk menciptakan pola gerakan sensorik sendiri. 3. Action Observation Therapy (AOT) Terapi tangan pascastroke selanjutnya adalah action observation therapy (AOT). Melalui terapi ini, pasien diarahkan untuk mengamati, meniru, dan melaksanakan gerakan atau tindakan tertentu yang dilakukan oleh orang lain, seperti mengambil segelas air, menyisir rambut, atau menulis. Biasanya, tindakan dari orang lain ini akan direkam dalam sudut pandang orang pertama atau orang ketiga. Kemudian, pasien dapat mengamati video tersebut dan melakukan gerakannya secara perlahan. 4. Mirror Therapy Melalui mirror therapy, dokter akan mengarahkan pasien untuk mengamati gerakan dari anggota tubuh yang tidak terdampak stroke melalui cermin yang diposisikan sejajar dengan garis tengah tubuh. Dengan begitu, pasien dapat menerima visualisasi gerakan tersebut untuk mengaktifkan sirkuit saraf tertentu dan merangsang plastisitas otak dalam mempelajari gerakan motorik kembali. Sebagai informasi, plastisitas otak merupakan kapasitas atau kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap kebutuhan fungsional, termasuk mengubah neurochemical, neuroreceptive, hingga struktur neuron saraf dan organisasi otak. 5. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation Repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS) merupakan tindakan neuromodulasi noninvasif yang dapat mengubah rangsangan motor cortex, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk menjalankan gerakan tubuh. Neuromodulasi sendiri merupakan terapi yang melibatkan modifikasi atau pengaturan saraf pada otak untuk mengembalikan fungsi normal sirkuit saraf serta meringankan gejala yang berkaitan dengan kondisi neurologis. Metode ini bisa menggunakan teknologi magnetik berfrekuensi rendah (1 Hz) yang ditempelkan pada kepala untuk menghambat rangsangan atau berfrekuensi tinggi (10–50 Hz) yang dapat meningkatkan rangsangan pada korteks otak.  6. Transcranial Direct Current Stimulation Transcranial direct current stimulation (TDC) adalah salah satu metode penyembuhan pascastroke bersifat noninvasif. TDC umumnya dilakukan dengan menggunakan dua elektroda berintensitas rendah (1–2 mA) yang ditempatkan pada kulit kepala.  Tujuannya adalah untuk merangsang neuroplastisitas agar bisa beradaptasi dengan kebutuhan fungsional, termasuk kemampuan motorik tangan. Neuroplastisitas atau plastisitas saraf adalah proses yang melibatkan perubahan struktural dan fungsional adaptif pada otak.  7. Inhibition Technique Inhibition technique adalah salah satu metode pemulihan pascastroke dengan cara meninggikan posisi lengan yang terdampak di atas 90 derajat saat pasien sedang menjalani latihan keseimbangan di atas permukaan busa. Hal tersebut diketahui dapat meredakan tonus atau ketegangan otot fleksor siku yang kerap dialami oleh penderita stroke. Selain itu, prosedur rehabilitasi stroke ini juga dapat membantu mengoptimalkan pemulihan fungsi anggota tubuh bagian atas serta kecepatan berjalan pasien. 8. Penggunaan Obat-obatan Dokter juga dapat menggunakan obat-obatan tertentu untuk mengubah transmisi saraf dan rangsangan motor cortex pada bagian otak, sehingga bisa membantu mengembalikan fungsi motorik tangan. Namun, perlu diingat bahwa obat-obatan ini tidak bekerja secara spesifik untuk menangani gangguan motorik tangan seperti terapi jari tangan pascastroke lainnya.  9. Constraint-Induced Movement Therapy Constraint-induced movement therapy (CIMT) adalah terapi yang bertujuan untuk kembali menyeimbangkan motor cortex dengan membatasi aktivitas dan gerakan pada sisi tubuh yang tidak terdampak. Sementara itu, sisi tubuh yang terdampak pascastroke perlu dilatih dan digerakkan secara intensif. 10. Terapi Jari Tangan Pascastroke Lainnya Selain metode yang telah dijelaskan di atas, terapi jari tangan pascastroke juga dapat dilakukan dengan beberapa tindakan medis lainnya, seperti bilateral training, electromyographic (EMG) biofeedback, electromechanical, hingga robot techniques. Berikut penjelasan selengkapnya.

*Bilateral training: Terapi yang menggunakan gerakan kedua lengan secara simetris (bersamaan) atau bergantian. *Functional electrical stimulation (FES) dan transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS): Terapi yang menggunakan dua elektroda untuk menghantarkan sinyal listrik pada bagian tubuh yang bermasalah. Tujuannya adalah untuk merangsang fungsi saraf sensorik tubuh. *Electromyographic (EMG) biofeedback: Prosedur noninvasif yang menggunakan elektroda untuk memantau waktu dan kekuatan aktivasi otot, dengan begitu pasien bisa mendapatkan umpan balik mengenai auditori dan visualisasi gerakan otot-ototnya. *Electromechanical atau robotic-assisted therapy: Melalui metode ini, pasien bisa mendapatkan umpan balik mengenai sistem sensorik dan motorik yang akan diterimanya saat bergerak secara normal. Dengan begitu, pasien dapat membuat pola gerakan yang diinginkan, di mana hal tersebut juga bisa merangsang fungsi motorik tubuh. *Virtual reality: Terapi ini dapat memberikan pengalaman pasien untuk melihat anggota tubuhnya bergerak tanpa kesulitan secara virtual. Metode ini juga memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan lingkungan yang distimulasi dengan melibatkan beberapa sistem sensori serta menerima umpan balik waktu nyata mengenai kinerja antara teknologi komputer canggih dan pengguna dengan lingkungan yang dihasilkan komputer dengan cara yang naturalistik.

*Task-specific practice: Terapi yang dilakukan dengan mengarahkan pasien untuk melakukan tugas-tugas tertentu secara spesifik guna memulihkan fungsi motorik secara optimal. *Robot-techniques: Rehabilitasi stroke dengan bantuan teknologi robot yang dapat memberikan intensitas latihan dan terapi fisik dengan intensitas tinggi. Terdapat dua jenis teknologi robot yang bisa digunakan untuk memulihkan fungsi motorik tangan pascastroke, yaitu: *End-effector devices: Perangkat ini dapat dihubungkan dengan bagian ujung lengan robot. Jadi, pasien bisa memegang perangkat tersebut untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. *Exoskeleters: Perangkat yang dipasang di beberapa titik pada anggota tubuh bagian atas, sehingga membentuk semacam otot buatan.

Terapi Jari Mandiri(genggam bola karet)

Salah satu terapi non farmakologi yang bisa diberikan pada penderita stroke adalah latihan fisik berupa genggam bola (Ball Grasping Therapy). Latihan genggam bola karet bertujuan untuk menstimulasi motorik pada tangan dengan cara menggenggam bola. Latihan menggenggam bola dengan tekstur yang lentur dan halus dapat merangsang serat-serat otot untuk berkontraksi. Adanya kontraksi otot tangan akan membuat otot tangan menjadi lebih kuat karena terjadi kontraksi yang dihasilkan oleh peningkatan motorik unit yang diproduksi asetilcholin (zat kimia yang dilepaskan oleh neuron motorik sistem saraf untuk mengaktifkan otot).

#Tata cara latihan genggam bola karet:
  1. Sebelum melakukan terapi baiknya dianjurkan penderita untuk pemanasan berupa menggerakan siku mendekati lengan atas (fleksi), meluruskan kembali lengan atas (ekstensi).
  2. Ball grip (wrist up): Pegang bola di telapak tangan. Buka tangan sehingga menghadap ke atas. Genggang kuat bola di telapak tangan tahan dan rileks. Ulangi kembali.
  3. Ball grip (wrist down): Pegang bola di telapak tangan. Balikkan tangan sehingga menghadap ke bawah. Remas bola di telapak tangan. Tahan dan rileks. Ulangi kembali.
  4. Pinch: Tempatkan bola di antara ibu jari dan jari telunjuk. Remas bersama. Tahan dan rileks
  5. Thumb extend: Tempatkan bola di antara ibu jari yang tertekuk dan dua jari di tangan yang sama. Menggulirkan bola, rentangkan dan luruskan ibu jari.
  6. Opposition: Tempatkan bola di telapak tangan. Pertahankan antra ibu jari dan jari saat sedang berlatih. Rapatkan ibu jari dan jari. Pegang dan rilekskan tangan.
  7. Extend out: Tempatkan bola di atas meja. Letakkan ujung jari di atas bola. Gulung bola ke luar di atas meja.
  8. Side-Squeeze: Tempatkan bola di antara dua jari mana pun. Rapatkan kedua jari tersebut. Tahan dan rileks
  9. Finger bend: Letakkan bola di telapak tangan dengan jari ditekan ke dalam bola. Dorong jari ke dalam bola saat anda menukuk jari. Tahan lalu rileks
Manfaat Terapi Jari

Terapi jari tangan pascastroke dapat membantu memulihkan fungsi motorik tangan yang terganggu akibat stroke. Dengan demikian, pasien dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri dan kualitas hidupnya akan kembali normal. Terapi pascastroke bertujuan untuk:
  • Membantu penderita menjalani rutinitas sehari-hari secara mandiri
  • Menjaga fungsi otak yang masih dapat dipertahankan
  • Mengurangi kerusakan syaraf
  • Menurunkan mortalitas dan kecacatan jangka panjang
  • Mencegah komplikasi sekunder pada imobilitas dan disfungsi syaraf
  • Mencegah stroke yang berulang
Terapi stroke yang dibutuhkan oleh setiap pasien bisa saja berbeda, tergantung dari tingkat keparahannya. Untuk memperoleh saran atau rekomendasi terkait perencanaan terapi jari tangan pascastroke, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi.

Kesimpulan

Terapi jari pasca stroke adalah serangkaian latihan yang dirancang untuk memulihkan fungsi motorik tangan yang terpengaruh akibat stroke. Lakukan latihan secara teratur dan konsisten untuk hasil yang maksimal. terapi jari pasca stroke adalah bagian penting dalam proses rehabilitasi stroke. Dengan terapi yang tepat dan konsisten, pasien dapat memulihkan fungsi tangannya dan meningkatkan kualitas hidupnya secara signifikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN MENGENAI STANDAR PELAYANAN ELEKTROMEDIS DENGAN PERMENKES NO 65 TAHUN 2016